Text
Uji Kualitatif Fitokimia dan Perbandingan Rendemen Ekstrak Daun Bambu Tali (Gigantochloa apus) dengan Metode Maserasi dan Sokletasi
Indonesia memiliki banyak tanaman yang tersebar di berbagai daerah, dimana beragam hayati yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat modern dan tradisional, salah satunya adalah tanaman bambu (Bambusa sp.). Daun bambu mengandung zat kimia yang memiliki daya hambat antibakteri. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui % rendemen ekstrak daun bambu tali yang dihasilkan dari metode ekstraksi maserasi dan sokletasi serta mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada daun bambu tali (Gigantochloa apus). Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dimana tahapannya meliputi penyiapan bahan, determinasi tumbuhan, dan tahapan penelitian. Penelitian ini menggunakan metode maserasi dan sokletasi untuk mendapatkan rendemen terbaik sehingga diharapkan ekstrak daun bambu memiliki kandungan bahan aktif yang banyak. Skrining fitokimia merupakan langkah awal sebelum dilakukan penelitian untuk memberikan gambaran awal terkait golongan-golongan senyawa yang terkandung dalam suatu tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi maserasi daun bambu menghasilkan rendemen sebanyak 5,3% sedangkan ekstraksi sokletasi daun bambu menghasilkan rendemen sebanyak 10,6%. Hasil skrining fitokimia dari simplisia kering daun bambu (Gigantochloa apus) menunjukkan bahwa daun bambu positif mengandung metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, kuinon, fenolat, dan steroid terpenoid.
Tidak tersedia versi lain